Kamis, 07 Maret 2013

Sagung Ayu Wah




Simbol Kepahlawan Wanita Tabanan

Kesetaraan gender mungkin sudah mulai di kenal sejak lahirnya pahlawan Wanita Raden Ajeng Kartini di Jepara, Jawa Tengah. Bahkan sampai sekarang  diperingati sebagai Hari Kartini setiap 21 April secara nasional. Namun demikian di Tabanan juga memiliki seorang pahlawan wanita pemberani. Keberaniannya menjadi  symbol perjuangan perempuan  untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki. Karena keberaniannya memimpin pasukan melawan pejajah Belanda menjadi inspirasi bagi perjuangan dan pembangunan perempuan di Tabanan. Dialah Sagung Ayu Wah atau lebih dikenal dengan Sagung Wah. Siapa dan bagaimana kiprahnya pahlawan Sagung Wah?
Awalnya tidak banyak yang tahu siapa Sagung Wah. Keberadaan Patung megah seorang perempuan memegang sebilah keris ditandu empat pria kekar di depan gapura Gedung kesenian I Ketut Maria  tidak banyak yang bisa dijelaskan. Patung itu sendiri di bangun  di tahun 1994. Meski beberapa kali seniman Tabanan menggarap berbagai  karya sastra dan karya seni  tentang Sagung Wah, Belum banyak yang tahu siapa dia. Sampai akhirnya, Pemkab Tabanan mencoba mencari sejarah keberadaan kota Tabanan. Nama Sagung Wah begitu mencuat. Apalagi dikaitkan dengan keberanaiannya menentang penjajah Belanda meski masih berusia remaja.
Sagung Wah menjadi sejarah besar bagi keberadan Tabanan yang dikenal sebagai Kota Singasana.  Sagung Wah merupakan adik perempuan  dari  Raja Tabanan I Gusti Rai perang yang gugur saaat melakukan perang puputan melawan penjajah Belanda di Puri Denpasar tahun 1906.  Kekalahan Raja  Badung saat itu  membuat pejajah Belanda leluasa untuk menguasai Bali termasuk Tabanan. Bahkan kerajaan Tabanan  yang dipimpin keturunan sira Arya Kenceng juga ditaklukan Belanda. Kemegahan  Puri Agung Tabanan dihancurkan penjajah Belanda. Seluruh keluarga Puri Agung Tabanan  diasingkan ke Lombok.  Apa perjuangan Tabanan lantas berhenti ? Ternyata tidak!
Keberadaan Sagung Wah yang seorang perempuan dan masih remaja luput dari perhatian Belanda. Setelah Puri Agung Tabanan di taklukan, Sagung Wah menemui rakyatnya di kaki Gunung Batukaru, tepatnya di wilayah  Wangaya Gede, Penebel yang saat itu dipimpin seorang Kubayan. Berdasarkan cerita dari Lontar Balikan Wangaya, Sagung Wah mencoba memompa semangat rakyat dan mengumpulkan para pemuda dan pria di wilayah tersebut untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Tepatnya 5 Desember 1906 Sagung Wah memimpin pasukannya  menuju Kota Tabanan hendak menyeranag  penjajah Belanda. Dengan menaiki Tandu dengan gagah berani Sagung Wah memimpin pasukannya menuju Tabanan. Dia memegang sebilah keris  senjata sakti pura Luhur Batukaru yang kemudian dikenal dengan Ki Baru Gajah. Namun sampai di Desa Wanasari, Sagung Wah mendapatkan informasi, kalau Belanda sudah siaga dengan persenjataan  lengkap. Namun hal tersebut tidak lantas menyurutkan keberanian Sagung Wah. Sagung Wah  bertekad melawan Belanda.
Ketika tiba di Tukailang , sebuah desa di utara Kota Tabanan, Pasukan Sagung Wah bertemu dengan pasukan Belanda. Dengan keris yang dibawa, seluruh senjata Belanda baik bedil maupun meriam tidak mau menyala dan menembakan pelurunya. Banyak serdadu Belanda tewas. Namun mereka kemudian mendapatkan senjata sakti dari Puri Tabanan Ki Tulup Empet mampu mengimbangi kesaktian keris Ki Baru Gajah. Bedil dan meriam belanda kembali menyalak dan memuntahkan peluru. Akibatnya psaukan Sagung Wah Banyak yang gugur dan Sagung Wah memutuskan kembali ke Wangaya Gede saat hari mulai gelap.
Selang beberapa saat Sagung Wah memutuskan pindah  ke Puri Anyar Kerambitan. Pasalnya Wangaya sudah dicurigai  Belanda dan keberadaan Sagung Wah sudah diketahui.  Setelah dua hari di Puri Anyar Kerambitan, ada utusan dari Tabanan supaya Sagung Wah kembali ke Puri Tabanan untuk memimpin kerajaan sebagai ratu. Tetapi ternyata hal tersebut hanyalah merupakan tipu muslihat Belanda. Sagung Wah tidak menyadari hal tersebut.
Sagung Wah-pun  mau datang ke Puri Tabanan. Sesaat sampai di Dauh Pala, tepatnya di depan Pura  pesimpangan Manik Selaka, ketika sedang ditandu untuk menuju Puri Tabanan, Sagung Wah ditangkap Belanda. Dia kemudian diasingkan ke Lombok menyusul keluarganya yang telah diasingkan terlebih dahulu. Hingga diasingkan ke Lombok, cerita tentang Sagung Wah kemudian hilang bagai di telan bumi,karena tidak ada catatan mengenai keberadaan beliau.
Kepahlawanan Sagung Wah inilah menjadi simbol keberanian masyarakat Tabanan dan menjadi bagian sejarah berdirinya Kota Tabanan. Dari berbagai sumber
Kepahlawanan Sagung Wah Diabadikan Lewat Patung

Sejarah kepahlawanan Sagung Ayu Wah atau Sagung Wah benar-benar menginspirasi  berbagai kalangan di Tabanan dalam mengisi pembangunan. Sebagai wujud penghormatan, sosok Sagung Wah kini diabadikan dalam sebuah patung perunggu berukuran 8 meter di  tengah-tengah kota Tabanan. Adalah Maestro patung asal Rejasa Penebel I Nyoman Nuarta mau menyumbangkan patung tersebut untuk pemerintah dan masyarakat Tabanan.
Munculnya ide membuat patung Sagung Wah berukuran raksasa berawal tahun 2011 lalu.  Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti dan wakil Bupati I Komang Gede Sanjaya  ingin mengabadikan kepahlawan Sagung Wah yang menjadi simbol sejarah Kota Tabanan. Keinginan tersebut bak gayung bersambut. Maestro patung I Nyoman Nuarta yang merupakan putra daerah Tabanan  juag  ingin menyumbangkan sesuatu yang monumental  untuk Tabanan.
“Selama ini saya membuat  patung atau monument di tempat lain. Saya ingin menyumbangkan sesuatu yang monumental di Tabanan di tanah kelahiran saya,” ujar Nyoman Nuarta saat ditemui di studionya di Bandung  Nopember 2011 lalu. Bahkan dia memberikan patung tersebut secara gratis kepada pemerintah dan masyarakat Tabanan. Sejak sebelumnya komunikasi intensif antara pemerintah Tabanan dengan I Nyoman Nuarta telah terjalin sebelumnya  sehingga saat Hut Kota Tabanan ke 518, 29 Nopember 2011 lalu, replika patung Sagung Wah dipamerkan di lokasi monumen  Sagung Wah saat ini . sementara di Bandung patung yang asli terus dikerjakan. Patung Sagung Wah sendiri terbuat dari perunggu dengan tinggi total 8 meter. Setelah pengerjaan selama enam bulan, Patung tersebut akhirnya rampung dan tiba di Tabanan  lewat darat Rabu (11/4) lalu.
Kini patung senilai sekitar  Rp 3 miliar lebih tersebut berdiri dengan megah  di perempatan jalan timur gedung kesenian I Ketut Maria. Patung tersebut selesai dirakit selama tiga hari para pekerja yang juga didatangkan dari Bandung. “Pemasangan patung  Sagung Wah selain sebagai simbol kepahlawanan, kami harap supaya masyarakat Tabanan bisa melihat sisi heroik dari sosok Sagung Wah saat melawan Belanda dulu,” ujar Bupati Tabanan Ni Putu  Eka Wiryastuti.
Sementara  patung tersebut telah dipelaspas 20 Mei 2012. Menurut Kepala DKP Tabanan IGN Supanji. Penentuan pemelaspasan Patung tersebut sesuai petunjuk sulinggih. “Dewasanya 20 Mei mendatang,” katanya. Lantas bagaimana dengan patung lama? Supanji mengatakan kalau patung lama yang berdiri di depan gapura gedung kesenian I Ketut Maria akan dilebar (dibongkar dan dipindahkan)  1 Mei lalu. Patung tersebut dibuat tahun 1994 lalu saat Tabanan dipimpin Bupati I Ketut Sundria.  “Patung itu diminta pihak puri kanginan,” kata Supanji. Menurut Supanji, tidak bagus ada patung yang sama , sehingga patung yang lama diputuskan dilebar.
Kini Patung Sagung Wah telah berdiri dengan megah di tengah kota Tabanan. Hiasan taman dibawahnya mempercantik patung perunggu yang wananya bisa berubah-ubah ini sesuai dengan keadaan dan cahaya. Patung ini menjadi salah satu hiasan yang mempercantik wajah kota Tabanan yang kecil ini. Masyarakatpun nampaknya sangat kagum dengan patung  tersebut. Nampak Sagung Wah berdiri dilindungi burung garuda. Sagung Wah memang keris dan tombang cabang tiga. Sementara kaki burung garuda mencengkram tiga buah anak panah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar